Senin, 17 Februari 2020

Indonesia Darurat Kerajaan Hoax

       Kata "kerajaan" sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Kerajaan pada umumnya merupakan bentuk pemerintahan yang dikepalai oleh raja. Raja sudah pastinya memiliki keistimewaan di kerajaan yang dikuasainya. Beberapa keistimewaan tersebut membuat timbulnya keinginan masyarakat untuk menjadi seorang raja. Namun,pada zaman sekarang kerajaan sudah hampir tidak dijumpai di Indonesia. Akan tetapi, beberapa waktu yang lalu muncul berita tentang kerajaan hoax. Hoax sendiri berarti berita bohong atau tidak bersumber. Sehingga kerajaan yang muncul beberapa waktu yang lalu tidak jelas sumber dan kebenarannya.

         Kerajaan hoax di Indonesia diawali dengan berdirinya Keraton Agung Sejagat yang membuat masyarakat Purworejo geger. Keberadaan Keraton Agung Sejagat terkuak melalui sebuah akun Twitter @aritsantoso yang kemudian menjadi viral. Di akun tersebut juga menampilkan foto-foto yang menunjukkan apa saja kegiatan dan aktivitas yang dilakukan oleh kerajaan tersebut. Kerajaan ini dipimpin oleh pasangan suami istri yakni Totok Santoso Hadiningrat dan Dyah Gitarja yang mengaku sebagai raja dan ratu. Totok Santoso selaku seorang raja menyebut bahwa kerajaan yang ia dirikan karena telah berakhirnya perjanjian 500 tahun yang lalu  antara Majapahit dan Portugis. Ia juga mengaku bahwa kerajaannya menguasai seluruh dunia termasuk lembaga-lembaga internasional sebagai aset kerajaan,seperti Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan Gedung Departemen Pertahanan AS yakni Pentagon.                               
       Akan tetapi, berdirinya Keraton Agung Sejagat. hanya seumur jagung. Hal ini dikarenakan banyak warga Purworejo yang merasa resah dan tertipu oleh keberadaan kerajaan ini, lalu melaporkannya ke pihak yang berwajib. Penangkapan Keraton Agung Sejagat tidak membuat masyarakat kapok, malah menjadi pemicu munculnya kerajaan-kerajaan hoax lainnya. Seperti Sunda Empire, Kerajaan Ubur-Ubur,dan 26 kerajaan lainnya.

        Keberhasilan berdirinya kerajaan-kerajaan hoax ini tak lain karena masyarakat Indonesia yang mudah terperdaya. Masyarakat yang menjadi sasaran berita hoax adalah masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Selain faktor pendidikan yang rendah faktor ekonomi menengah kebawah juga menjadi alasan masyarakat termakan berita hoax itu. Mereka diiming-iming gaji kurang lebih 13 miliyar setelah melakukan aktivitas penting yang mendukung berjalannya kerajaan.

       Di era modern ini, kita sebagai masyarakat harus lebih pandai dalam menyaring dan memilih informasi yang kita dapatkan. Kita juga harus memastikan darimana kebenaran dan sumber berita itu berasal. Dalam menghadapi kasus seperti ini pemerintah diharuskan bertindak tegas agar tidak terjadi hal yang sama.


Nama kelompok:
1.Bilqis Firyal. I/ Xl Mipa 2
2.Hani Suraya / Xl Mipa 2
3.Nur Widya Eka/ Xl Mipa 2
SMA panjura Jln. Kelud no. 9 Malang